Suatu hari, di sebuah desa kecil hidup seorang anak laki-laki bernama Jack. Dia berumur kurang lebih 10 tahun. Jack setiap hari harus berjualan kue yang dibuat oleh ibunya. Seorang anak yang seharusnya menikmati masa-masa sekolah harus meluangkan waktunya untuk berjualan karena tuntutan ekonomi. Ayah Jack yang bekerja sebagai tenaga kerja kasar tidak cukup memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Meski begitu dalam hati Jack memiliki impian yang ingin ia capai.
Suatu ketika hari minggu, Jack menjajakan kue dagangannya. Pintu-pintu telah Jack sambangi, dari pagi sampai sore tak ada satu pun kuenya yang laku. Hingga terasa di tenggorokannya sudah kering dan perutnya mulai lapar. Jack tidak mau memakan kuenya karena masih belum ada yang laku satupun. Jack juga tidak mau pulang sebelum dagangannya habis, karena Jack merasa tidak sampai hati melihat orang tuanya bekerja keras sementara dia menyerah dalam keletihan. Dalam keadaan haus, Jack melanjutkan berdagang.
Hingga suatu ketika Jack melihat sebuah gubuk kecil. Jack tertegun karena gubuk itu tidak jauh beda dengan gubuk yang dia tempati bersama keluarganya. Jack hanyut dalam lamunan sehingga tidak sadar ada seorang gadis kecil bernama Jessica, gadis sebayanya keluar dari gubuk itu.
"Hei... Ada apa?" tanya Jessica kepada Jack.
"Ehh... Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin menjual kue-kue ku ini, kemudian sebagian uangnya ingin aku belikan minuman. Aku sangat haus, dari pagi sampai sore ini daganganku belum ada yang laku satu pun.", tawar Jack kepada Jessica.
Jack tau kondisi keluarga Jessica juga tidak berkecukupan tapi pikir Jack tidak ada salahnya menawarkan barang dagangannya.
"Aku tidak punya uang untuk membeli kuemu, tapi aku punya segelas susu yang bisa menghilangkan rasa hausmu.", respon Jessica sambil menyodorkan segelas susu kepada Jack.
Jack pun merasa senang, dan sangat berterima kasih kepada Jessica. Dari pertemuan itu, menjadi pertemuan pertama dan terakhir mereka. Jack tidak pernah bertemu dengan Jessica lagi setelah pertemuan itu.
Dua puluh tahun telah berlalu. Jessica tumbuh menjadi gadis dewasa. Tapi malangnya Jessica mengidap penyakit kanker. Dengan bermodal kartu kesehatan, Jessica merujuk ke rumah sakit-rumah sakit yang ada di kotanya. Tapi tidak satu pun rumah sakit yang mau menerima pasien secara gratis. Penyakitnya semakin hari semakin parah. Jessica hampir putus asa dengan keadaannya. Akhirnya Jessica tidak punya pilihan lagi, masih ada satu rumah sakit swasta yang belum dia kunjungi begitu pikirnya. Mau tidak mau Jessica harus berobat ke rumah sakit tersebut dengan niat ia akan mencari kerja untuk melunasi biaya rumah sakit tersebut setelah sembuh nanti.
Setelah menkonfirmasi dengan pihak rumah sakit, akhirnya operasi menjadi jalan satu-satunya menyelamatkan Jessica. Operasi tersebut ditangani langsung oleh seorang dokter spesialis bedah yang sekaligus pemilik rumah sakit tersebut. Setelah beberapa jam, akhirnya operasi berhasil.
Dalam beberapa hari Jessica sudah mulai siuman. Dalam hati Jessica masih ingat ia punya tanggungan harus mencari kerja untuk melunasi biaya rumah sakit. Jessica mulai melirik kepada suster yang menghampirinya sambil menyodorkan surat tagihan biaya rumah sakit. Jemari Jessica mulai gemetar saat membuka isi surat tagihan itu. Saat dibuka, bukannya berisi tagihan pembayaran melainkan hanya berisi secarik kertas yang bertuliskan:
"TELAH DIBAYAR DENGAN SEGELAS SUSU. TTD. Dr. Jack"